Suatu ketika Luqman Al Hakim mengajak putranya pergi ke suatu tempat. Karena akan menempuh perjalanan yang cukup jauh Lukman merasa perlu membawa kendaraan yaitu keledai dan ia hanya memiliki seekor keledai. Luqman akhirnya meminta putranya menuntun keledai. Sedangkan ia duduk santai diatas punggung binatang itu. Disuatu tempat Luqman dan putranya melewati sekelompok orang. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata “bagaimana sich orang tua itu? Anaknya yang masih kecil disuruh berjalan. Eh dia malah enak-enakkan naik keledai, dasar oang tua tak tahu malu !!!”. “Apa yang mereka katakan anakku ?” tanya Luqman kepada anaknya. Sang anakpun mengungkapkan apa yang ia dengar.
Mendengar tutur putranya Luqman segerai bereaksi. Ia turun dari punggung keledai dan menyuruh anaknya berganti posisi, kemudian meneruskan perjalanannya. Ditengah perjalanan mereka berpapasan lagi dengan sekelompok orang. “Celaka anak itu,” cemooh orang-orang itu, “tega-teganya ia membiarkan orang yang sudah tua itu berjalan berjalan kaki, sedang ia cuek saja naik keledai. Uh dasar anak tidak tahu diri !”, Luqman kembali bertanya kepada anaknya “wahai anakku, apa yang mereka katakan ?” sang anak kembali menuturkan apa yang ia dengar. “wahai anakku, apa yang mereka katakan ?” sang anak kembali menuturkan apa yang ia dengar. “kalau begitu kita naiki saja keledai ini berdua” kata Luqman.
Kini Luqman dan putranya menunggangi keledai itu, karena kelebihan beban, keledai itu berjalan terseok-seok. Sampai kemudian mereka bertemu dengan sekelompok orang. “Dua orang duduk bergoncengan menunggang keledai, padahal sakit tidak, lemah pun tidak”, protes orang-orang itu. “Apakah ke-2 orang itu tidak merasa bahwa keledai itu sudah kepayahan ?’ mereka benar-benar tidak mengenal belas kasihan !”. mendengar hal tersebut Luqman dan anaknya segera turun dari keledai tersebut dan menuntun keledai itu. “Biarlah berjalan kaki asal tidak dihujat sebagai penyiksa makhluk Allah”, kata Luqman.
Kemudian Luqman dan anaknya bertemu dengan sekumpulan orang lagi. Mereka merasa heran melihat keledai yang segar bugar berjalan tanpa muatan, sementara pemiliknya berjalan kaki menuntunya. Kemudian salah seorang diantara mereka bertanya “Mengapa engkau bawa keledai itu jika tidak dipergunakan bukankah itu hanya akan merepotkan kalian saja ?”, “kenapa diantara kalian tidak ada yang menungganginya ?”. Luqman dan puteranya saling berpandangan. Empat kelompok yang mereka lewati ternyata memiliki pandangan yang berbeda-beda.
“Wahai anakku, beginilah jadilah kalau kita ingin memuaskan pendapat banyak orang. Padahal setiap orang memiliki pandangan berbeda” ujar Luqman. Ia kemudian memberikan nasehat yang berharga kepada anaknya “Anakku lakukanlah apa yang terbaik bagimu. Dan jangan terpengaruh oleh ucapan dan komentar orang lain. Dengan begitu engkau bisa melangkah pasti dalam kehidupan ini.


This entry was posted on 23:39 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: